DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI INDONESIA

Demam berdarah dengue sudah diketahui sejak abad ke 19. Penyakit ini banyak menyebar di Asia, yaitu India, Filipina, Indonesia, dan Brasil di  Amerika Selatan serta negara-negara lainnya. Di Asia Tenggara penyakit ini mulai ditemukan pada 1950 – 1975. Di Filipina, DBD mulai ditemukan di Manila pada 1953 dan di Indonesia pasien demam berdarah dengue mulai ditemukan di Surabaya dan kemudian di Jakarta pada 1969. Saat itu ada 24 orang meninggal. Sejak saat itu Indonesia tidak pernah lepas dari wabah DBD. Setiap tahun selalu terjadi wabah DBD, ratusan orang kena DBD dan kerugian ekonomi sampai trilyunan rupiah.

 

A. PENGETAHUAN TENTANG DEMAM BERDARAH DENGUE

  1. Pengertian

Demam berdarah dengue (DB) sudah dinyatakan oleh pemerintah sebagai wabah, yaitu kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

Secara umum penyebab wabah dikelompokkan sebagai berikut:

  • Toksin (kimia dan biologi).
  • Infeksi (virus, bakteri, protozoa dan cacing).

Demam Berdarah Dengue adalah infeksi yang disebabkan oleh virus genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae,  yaitu virus Dengue. Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk-nyamuk, antara lain: Aedes Aegepty dan Aedes Albopictus betina. Virus dengue inilah yang menyerang manusia dan dapat mematikan. Dalam ilmu kedokteran DBD dikenal sebagai penyakit Dengue Hemorrhagis Fever. Disebut demikian karena orang yang terserang DBD akan mengalami demam tinggi, ada gangguan darah kapiler dan terganggunya sistim pembekuan darah yang mengakibatkan perdarahan.

 

2. Korban dan Kerugian

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menyerang semua orang dan semua umur dan umumnya anak-anak yang rentan. Risiko DBD pada pasien dewasa lebih rendah dibanding dengan anak-anak. Anak-anak dan bayi, khususnya perempuan, yang terserang DBD akan menderita infeksi yang serius serta menjadi lebih parah keadaannya. Berbeda dengan penyakit lain, anak-anak dengan keadaan kecukupan gizi justru berisiko menderita penyakit lebih berat dibanding dengan anak yang kurang gizi.

Penyakit DBD dapat mematikan bila korban tidak segera mendapat pertolongan dan perawatan segera dan benar. Oleh karena itu bawalah penderita dengan segera ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat. Orang yang pernah kena BDB bisa diserang lagi.

 

Pasien DBD dirawat di rumah sakit
Pasien DBD diinfus ketika dirawat di rumah sakit

 

Wabah Penyakit DBD dapat menimbulkan dampak kepada masyarakat yang sangat luas meliputi:

  • Jumlah penderita (pesakitan) bila tidak dikendalikan maka dapat menyerang masyarakat dalam jumah yang sangat besar bahkan sangat dimungkinkan wabah akan menyerang lintas kabupaten, provinsi dan negara.
  • Jumlah kematian, apabila jumlah penderita tidak berhasil dikendalikan maka jumlah kematian juga akan meningkat secara tajam, khususnya wabah penyakit menular yang relatif  cepat penularannya seperti DBD.
  • Aspek ekonomi, dengan adanya wabah DBD maka akan memberikan dampak pada menurunnya roda ekonomi. Dilaporkan kerugian ekonomi yang disebabkan oleh wabah DBD bisa mencapai triliunan rupian setiap tahunnya.
  • Aspek sosial dan politik, bila wabah DBD terjadi akan menimbulkan keresahan masyarakat dan kondisi ini sangat potensial untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu guna menciptakan kondisi yang tidak stabil.

 

 3. Penyebab

Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus betina. Dengue menyerang darah merah manusia dan masa inkubasinya adalah antara 2 sampai 7 hari.

Dalam masa inkubasi tubuh manusia tidak mengalami perubahan. Setelah masa inkubasi, tubuh manusia akan mengalami demam tinggi sampai lebih dari 40 drajat Celcius. Pada masa ini jumlah kadar trombsit akan menurun secara tajam dari sekitar 200.000 unit per mm2 menjadi sekitar kurang dari 50.000 unit per mm2 unit.

Setelah 3 hari panas tubuh penderita akan menurun ke arah normal. Seolah-olah penderita tidak sakit lagi bahkan merasa sembuh. Namun, sesungguhnya virus Dengue masih tetap menyerang darah penderita dan jumlah kadar trombositnya bisa menurun sampai 10.000 unit per mm2. Bila perdarahan orang yang terserang Demam Berdarah Dengue tak bisa diatasi maka ada kemungkinan akan timbul komplikasi dan bisa menyebabkan kematian bila tidak ditolong segera dan dirawat secara intensif.

 

4. Cara Penularan

Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus betina. Nyamuk ini sebelumnya menggigit manusia yang menderita DBD dan menghisap virus Dengue. Virus Dengue dalam nyamuk ini kemudian ditularkan ke manusia lain saat nyamuk itu menggigitnya.

 

5. Gejala

Gejala orang yang terserang DBD antara lain:

  • Gejala awalnya mirip sekali dengan flu biasa atau sakit radang saluran pernapasan biasa. Bila sudah gawat maka nadi dan tekanan darah tidak dapat diukur. Tanda-tanda fisik antara lain tubuh lemah, pucat, tak bersemangat.
  • Suhu badan meningkat secara mendadak di atas suhu normal, rata-rata di atas 40 drajat Celsius selama empat hari. Oleh karena itu tubuh akan merasa kedinginan.
  • Tekanan darah menurun, tidak beraturan dan denyut nadi lemah.
  • Sendi, otot, dan betis sakit terasa nyeri dan sakit.
  • Sakit kepala berat dan pusing.
  • Perut sakit dan mual serta mau muntah.
  • Ulu hati terasa nyeri dan kadang-kadang ada perdarahan di lambung.
  • Terdapat bintik-bintik merah di kulit pada beberapa bagian tubuh seperti tangan dan kaki.
  • Ada perdarahan di mulut (gusi), hidung (mimisan), dan berdarah waktu buang air besar (BAB).
  • Bagi wanita yang sedang haid, jumlah darah haid dan masa haidnya akan bertambah banyak.
  • Bila penderita sudah parah, dia akan akan merasa gelisah dan pada ujung jari tangan dan kakinya terasa dingin.
  • Penderita tidak bisa makan dan minum serta muntah terus, kesadaranannya menurun dan mulai hilang.
  • Hasil test darah akan menunjukkan jumlah kadar trombosit menurun hingga kurang dari 100.000 unit per mm2. Padahal penderita baru demam selama 3 hari. Bila pemeriksaan darah lebih dari 3 hari, jumlah kadar trombosit akan sangat menurun hingga kurang dari 50.000 unit per mm2.

 

Waspada:

Bawalah segera ke puskesmas atau rumah sakit bila diketahui ada anak atau orang dewasa dengan gejala tersebut di atas. Jangan sampai terlambat mendapat pertolongan.

 

6. Upaya Pengobatan

  • Saat ini Indonesia telah dapat membuat vaksin Dengue. (Baca artikel: Indonesia telah menemukan vaksin Dengue). Vaksin ini telah diekspor Indonesia ke 12 negara, antara lain, Singapore, Thailand, Filipina,Meksiko dan Brasil. Di beberapa negara, seperti Filipina dan Brasil, vaksin ini merupakan vaksin yang wajib diberikan kepada anak-anak.
  • Tidak ada pengobatan untuk membunuh virus Dengue. Dokter yang mengobati adalah dengan memberi banyak cairan melalui infus karena penderita DBD akan banyak kehilangan cairan di dalam sirkulasi darahnya dan banyak cairan darah ke luar dari jaringan ini. Pengobatan lainnya adalah pengobatan pendukung seperti banyak istirahat, banyak minum air dan vitamin penguat tubuh.
  • Penderita sebaiknya dikompres dengan air untuk menurunkan suhu badan.
  • Antibiotika sebaiknya tidak diberikan karena antibiotika tidak bisa membunuh virus Dengue.
  • Obat anti panas juga tidak perlu diberikan kecuali penderita sudah tidak dapat menahan panas yang dideritanya. Obat penurun panas yang dapat diberikan antara lain paracetamol. Aspirin sama sekali tidak boleh diberikan karena akan menyebabkan bertambah banyaknya perdarahan.
  • Transfusi trombosit atau transfusi darah hanya diberikan dalam keadaan mendesak dan sebaiknya transfusi darah tidak diberikan. Dalam perawatan seminggu, biasanya jumlah trombosit yang semula menurun sampai kurang dari 10.000 per mm2 akan menjadi normal dan meningkat menjadi lebih dari 150.000 per mm2. Setelah ini pasien akan sembuh kembali.
  • Bisa minum obat herbal atau tumbuhan tradisional yang sudah diteliti di laboratorium farmasi dan diketahui khasiatnya untuk mengobati DBD.

 

7. Upaya Pencegahan

  • Pakai vaksin DBD, Indonesia sudah mampu memproduksi vaksin ini.
  • Upaya utama yang dilakukan adalah dengan memusnahkan perantaranya, yaitu nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus.
  • Upaya pencegahan tidak hanya dilakukan pemerintah tetapi juga melibatkan masyarakat. Hal ini dilakukan antara lain dengan penyemprotan (fogging) pembasmi nyamuk, mematikan jentik nyamuk, memberi bubuk Abate di kolam atau bak mandi, dan membentuk masyarakat peduli demam berdarah Dengue. Ini antara lain dengan mengaktifkan Kelompok Pemantau Jentik di setiap RT.
  • Musnahkan semua wadah yang dapat menampung nyamuk berkembang biak dan jentik berkembang, seperti ember, drum, kaleng, botol, vas bunga, ban bekas dan wadah-wadah lain yang bisa menampung air atau air hujan.
  • Upayakan untuk memutus rantai daur hidup nyamuk dengan mengenali sifat nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk ini suka bersarang dan bertelur di air bersih. Jadi tempat atau wadah yang dapat menampung air ini harus dibersihkan atau dimusnahkan. Hal ini harus dilakukan secara terus menerus tanpa batas waktu. Waspadalah pada musim hujan dimana banyak air tergenang. Keringkanlah air yang menggenang dan timbun bagian ini agar tak bisa lagi menanmpung air.
  • Nyamuk ini suka menggigit di siang hari khususnya di pagi dan sore hari. Oleh karena itu harus memakai pakaian lengan panjang dan memoleskan lotion anti nyamuk di tangan dan kaki.
  • Lindungi bayi waktu tidur di siang hari dengan memakai kelambu untuk mencegah nyamuk menggigitnya.
  • Jangan menggantung baju bekas pakai.
  • Semprotkan obat pembasmi nyamuk di dalam rumah secara teratur di sore hari sebelum tidur.

 

7. Rencana menghadapi wabah DBD

Untuk menghadapi wabah penyakit DBD setiap orang harus mempunyai rencana. Rencana ini antara lain meliputi:`

  • Bergabung dengan kegiatan pembasmian DBD berbasis masyarakat, khususnya masyarakat siaga menghadapi wabah penyakit DBD dan Kelompok Pemantau Jentik di setiap RT.
  • Turut serta dan mendukung pendidikan kegiatan pembasmian DBD di sekolah.
  • Mengikuti kegiatan pelatihan teknis dan ketrampilan kerja dalam rangka PRB (pertukangan, pertanian, peternakan, keterampilan usaha, industri rumah tangga dan sejenisnya). Ini dimaksudkan untuk meningkatkan keadaan ekonomi masyarakat sehingga tidak rentan dalam menghadapi wabah DBD.

 

B. MITIGASI WABAH PENYAKIT DBD

Upaya mitigasi bencana wabah penyakit dibagi menjadi dua bagian, yaitu: upaya mitigasi non-struktural (bukan upaya pembangunan fisik) dan upaya mitigasi struktural (upaya pembangunan fisik).

  1. Upaya mitigasi non-struktural
  • Menyiapkan masyarakat secara luas termasuk aparat pemerintah. Khususnya di jajaran kesehatan dan lintas sektor terkait untuk memahami risiko bila terjadi wabah DBD serta bagaimana cara-cara menghadapinya bila wabah ini Ini dilakukan melalui kegiatan penyuluhan yang berkesinambungan.
  • Melakukan dan mendukung upaya pencegahan, respon cepat serta penanggulangannya bila wabah DBD
  • Upaya penguatan pengawasan penyebaran wabah DBD, identifikasi faktor risiko dan menentukan strategi intervensi dan penanggulangan maupun respon dini di semua jajaran.
  • Pengendalian faktor risik. Bila sudah terkena demam jangan sampai menjadi kehilangan kesadaran. Lihat dan baca keterangan tentang gejala-gejala DBD di atas.
  • Deteksi dini. Jangan anggap biasa bila terkena gejala flu dengan demam tinggi.
  • Respon cepat: pergi ke Puskesmas atau rumah sakit atau dokter keluarga untuk mendapat penanganan segera dan tepat.

 

2. Upaya mitigasi struktural

  • Meyiapkan infrastruktur untuk upaya penanggulangan wabah DBD, seperti sumber daya manusia yang profesional, sarana pelayanan kesehatan, seperti pembangunan Puskesmas dan rumah sakit dengan jumlah fasilitas rawat inap dan tempat tidur yang banyak yang dapat menampung pasien saat DBD mewabah, sarana komunikasi, transportasi, persediaan obat-obatan dan logistik kesehatan lainnya, biaya pengobatan dan operasional lainnya.

 

C. PENUTUP

Untuk mempercepat peningkatan pengetahuan, sikap dan praktek target sasaran tentang pengurangan risiko bencana wabah DBD, ada banyak cara atau metode yang dapat dipakai yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan serta menarik bagi masyarakat dalam tingkat pendidikan apapun.

Kemaslah informasinya dengan menarik. Cara yang dapat dilakukan antara lain dengan memberi informasi sedikit demi sedikit, santai tapi terarah. Dalam menginformasikan pengurangan risiko bencana wabah DBD juga dapat memanggil pembicara ahli untuk masing-masing bidang.