BICARA DI DEPAN PUBLIK

BERBICARA DI DEPAN PUBLIK

Bambang Hendro Samekto

 

A. PENGANTAR

Berbicara di depan publik atau pidato atau ‘public speaking’ adalah keahlian atau kemampuan yang harus dimiliki orang yang berkedudukan sebagai pemimpin, baik lembaga pemerintahan, lembaga usaha, lembaga sosial, ahli politik, ahli hukum, pendidik, motivator, tenaga pemasaran atau pemimpin informal lainnya. Agar seseorang dapat berhasil dalam karir, tugas atau misinya seringkali seseorang harus menguasai keahlian ini.

Orang yang memiliki keahlian ini dalam beberapa hal akan dapat mempengaruhi cara berpikir, bersikap dan bertindak orang lain dan bahkan dapat merubah jalan hidup orang lain. Keahlian ini dapat mempengaruhi dan menggerakkan orang-orang dalam kelompok di wilayah kecil atau yang luas, bahkan secara nasional untuk mengikuti ajakan, kehendak, idea atau gagasan yang disampaikannya.

Sebagai contoh, seorang yang ahli berbicara di depan publik akan dapat memotivasi orang-orang di sekitarnya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Dalam skala nasional seorang pemimpin yang ahli berpidato dapat menggerakkan bangsa untuk mendukung gagasan-gagasannya yang cemerlang. Diketahui bahwa pendiri bangsa, Presiden Sukarno, adalah ahli berpidato yang telah menggerakkan seluruh bangsa Indonesia untuk merdeka dari penjajahan Belanda. Sebaliknya, orang yang terbatas kemampuannya dalam berbicara di muka umum akan gagal untuk mempengaruhi orang-orang atau kelompok untuk menerima ide atau gagasannya meskipun itu adalah ide atau gagasan bagus.

Setuju bahwa ada orang-orang yang secara alamiah berbakat sebagai ahli pidato. Tapi tidak semua orang memiliki keahlian ini. Ada pula orang yang merasa takut untuk berbicara di depan publik (glossophobia). Hal ini dikenal sebagai “demam panggung” di mana seseorang merasa takut untuk berbicara di depan publik atau takut berpidato. Keadaan ini katanya menghinggapi para pemula. “Demam panggung” akan hilang dengan bertambahnya usia seseorang. Pada hal tidak demikian. ‘Glossophobia’ adalah benar-benar rasa takut dari seseorang untuk bicara di muka umum tanpa mengenal usia karena ketakutan ini ada dalam susunan syaraf otaknya. Namun tidak perlu khawatir karena kealian ini dapat dipelajari, dipahami, dilatih dan dikuasai teknik-tekniknya sedini mungkin. Belajar mengenai hal ini akan memberi kemampuan sekaligus kepada seseorang untuk menjadi pembicara, pendengar dan pemikir yang baik pada saat bersamaan. Jadi belajarlah untuk berbicara di depan publik, di depan teman-teman, guru atau orang-orang tua sejak SD, SMP, atau SMA.

Pada saat ini berbicara di depan publik atau berpidato untuk acara-acara bisnis atau komersial dilakukan oleh para profesional baik yang tergabung dalam usaha penyelenggara kegiatan ini atau perorangan. Dengan bantuan alat komunikasi modern, seperti radio, televisi, teleconference atau media sosial, seorang pemimpin dapat berbicara untuk menjelaskan, mempengaruhi dan menggerakkan orang untuk menerima, memahami, mengikuti dan menjalankan ajakan, kehendak, kebijakan, idea atau gagasan yang disampaikannya secara lebih luas lagi.

 

B. PENGERTIAN

Berbicara di depan publik atau berpidato atau ‘public speaking’ adalah suatu proses di mana seseorang secara langsung bertatapan muka, melalui media atau saluran komunikasi berbicara kepada sekelompok orang untuk menyampaikan ajakan, kehendak, idea atau gagasannya secara terpola, teratur dan terencana dengan tujuan untuk memberitahu, membujuk atau mempengaruhi atau juga menghibur khalayak sasarannya, pemerhati atau pendengarnya.

 

C. TEORI KOMUNIKASI

Dalam teori komunikasi, berbicara di depan publik termasuk komunikasi interpersonal karena di dalamnya terdapat unsur-unsur di mana seseorang berbicara dengan banyak orang atau komunikasi massa untuk memberi informasi, memberitahu, memotivasi, membujuk, mempengaruhi, mengembangan pribadi, dan/atau menghibur.

Berbicara di depan publik termasuk teori komunikasi yang diperkenalkan oleh Harold Lasswell berpuluh tahun yang lalu di mana “seseorang menyampaikan informasi, pendapat atau gagasannya, melalui saluran apa, kepada siapa, kapan dan untuk maksud apa”. Kegiatan ini dapat pula dianggap sebagai suatu kegiatan diskusi di mana pembicara dan yang hadir saling melontarkan pendapat atau ide untuk mencapai suatu kesamaan pendapat atau suatu tujuan bersama.

Demikian pula, seorang pembicara yang ahli, berkredibilitas tinggi, berpribadi kuat, dan berkarakter akan lebih berhasil dalam membujuk dan mempengaruhi orang lain karena dia lebih dipercaya sebagai sumber berita. Dalam kaitan ini, sumber berita yang terpercaya memiliki tiga sifat: masuk akal, niat baik dan bermoral. Tentunya pendapat, gagasan atau ide ini harus didukung dengan bukti-bukti sahih berdasarkan penelitian, dalam bidang yang sangat khusus, dan berdasarkan pengalaman nyata.

 

D. LANGKAH-LANGKAH

Untuk dapat berbicara di depan publik dengan baik maka perlu diketahui tahapannya, yaitu: persiapan, pelaksanaan dan evaluasi.

1. Persiapan

  • Rencanakan tiap pidato, sambutan atau berbicara di depan publik dengan baik sedini mungkin.

Pertama adalah ketahui apa tujuannya. Apakah untuk memberitahu, mengajak, membujuk atau mempengaruhi atau juga menghibur khalayak yang hadir. Kemudian tentukan hal pokok apa yang akan disampaikan. Ini bisa terdiri dari satu, dua atau tiga hal utama. Hal pokok ini harus berkaitan dengan tujuan umum berbicara di depan publik. Selalu berikan ide-ide baru kepada yang akan hadir. Jangan mengulang yang sudah sering dikatakan pembicara atau orang lain.

Selanjutnya dibuat kerangka atau garis besar dari idea atau gagasan yang dikemukakan. Garis besar ini akan membuat penyampaian idea atau gagasannya menjadi fokus dan terorganisasi dengan baik. Garis besar ini berisi hal-hal pokok dari idea atau gagasan, informasi dan data yang mendukungnya, dan kesimpulannya. Buatlah garis besar itu secara berurutan sesuai dengan saat-saat penyampaiannya, yaitu:  pada awal, di tengah atau akhir pidato. Pada awal bicara harus disebut judul dan hal-hal pokok yang akan diberikan. Isilah bagian tengah pidato dengan uraian yang mendukung hal-hal pokok tadi serta contoh-contohnya. Pada bagian akhir sebut sekali lagi pokok-pokok bahasan, ringkasan pesannya dan meminta peserta yang hadir atau yang mendengar untuk melakukan tindakan sesuai dengan yang dikehendaki pembicara.

Setelah itu tulislah alinea-alinea dari sambutan atau pidato itu sesuai dengan garis besar dan bagian-bagian yang sudah dibuat sebelumnya. Pada awalnya memang sulit untuk menulisnya tapi lama kelamaan akan mudah membuatnya. Buat draft yang umum dulu kemudian baru diedit.

  • Tulis di kertas kecil. Tulislah garis besar dari topik bahasan dalam kertas kecil. Ini akan membantu bila pembicara lupa hal apa yang harus disampaikan selanjutnya. Tapi jangan terus menerus melihat ke kertas itu. Kertas hanya dilihat bila memang ada yang lupa tentang hal apa yang harus disampaikan selanjutnya. Oleh karena itu yang ditulis hanyalah hal-hal yang pokok saja.
  • Apa acaranya. Catat atau ingat dalam acara apa, kapan, di mana dan apa maksud  sambutan atau pidato ini akan dilakukan.
  • Siapa yang hadir. Catat atau ingat siapa saja yang akan hadir pada acara itu. Ini bisa ditanyakan kepada staf atau panitia penyelenggara acara itu. Perhatikan juga nanti kalau ada pejabat yang tiba-tiba hadir yang perlu disebut nama dan jabatannya. Keberhasilan bicara di muka umum juga ditentukan siapa yang hadir. Jadi pendekatan yang dilakukan harus disesuaikan dengan yang hadir. Apakah mereka anak-anak muda atau orang-orang tua, kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, kelompok etnis tertentu, kelompok agama tertentu atau campuran dari orang-orang itu. Ingat pula yang hadir tentu mempunyai harapan-harapan tertentu yang berbeda satu dengan lainnya. Ada yang bisa dan mudah menerima gagasan baru ada yang sukar mencernanya.
  • Latihan. Salah satu cara untuk mengatasi demam panggung dan agar berbicara di muka umum dengan baik dan lancar adalah melakukan latihan. Latihan ini bisa membantu melihat kekuatan dan kelemahan pembicara serta dapat dengan mudah memperbaiki kesalahan. Ini bisa dilakukan dalam ruang tertutup sendiri saja atau dihadiri oleh teman atau staf lain yang dapat membantu mencatat kesalahan atau kekurangan dan memperbaikinya. Kegiatan ini bisa juga dilakukan sesering mungkin dengan memanfaatkan setiap acara di mana seseorang diminta untuk memberi sambutan di depan orang banyak.

Ingat bahwa sebagai pemimpin sering diminta untuk berbicara atau memberi sambutan secara tiba-tiba pada suatu acara dadakan. Jadi harus siap berbicara secara singkat dengan gagasan, topik khusus dan sesuai dengan keadaan mutakhir. Kegiatan ini membantu seorang pemimpin untuk dapat berbicara dengan baik dan mempunyai pemahaman yang lengkap tentang apa saja yang terjadi di organisasi atau perusahaan tempatnya bekerja.

Sering dikatakan: “Menjadi bisa karena biasa” atau “Banyak latihan membuat seseorang menjadi sempurna”. Jadi seseorang tak akan bisa berbicara dengan penuh percaya diri tanpa latihan. Untuk latihan, carilah kesempatan untuk bisa sering tampil. Banyak acara yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat latihan ini. Mintalah secara sukarela untuk dapat berbicara di muka umum. Ini merupakan tempat latihan terbaik.

  • Bahasa tubuh. Perhatikan bahasa tubuh. Banyak orang tidak menyadari pentingnya bahasa tubuh dan komunikasi non-verbal atau ‘non-verbal communication’ dalam berbicara di muka umum. Pada hal bahasa tubuh sangat penting. Perhatikan penggunaan bahasa tubuh dengan baik dan tepat.

Saat tampil di muka umum, hal pertama yang diperhatikan oleh yang hadir adalah posisi tubuh dan gaya berdiri pembicara ketika berdiri di panggung dan bukan suara atau isi bicaranya. Pembicara yang tidak berdiri tegak atau loyo dianggap tidak bersemangat, tidak berdaya dan membuat yang hadir jadi tidak tertarik. Berdiri dengan tegap dan sempurna serta tersenyum, ini akan membuat yang hadir percaya akan kemampuan dan keahlian pembicara. Latihlah agar posisi tubuh berdiri tegak dan sempurna saat berbicara.

Upayakan agar tubuh berdiri tegap, tidak loyo, tidak membungkuk ke depan, ke kiri atau ke kanan atau bertumpu pada salah satu kaki saja. Jangan berdiri dengan kaki terbuka lebar atau terlalu rapat, ini membuat tubuh menjadi tidak seimbang dan tidak nyaman. Tariklah perut ke dalam dan secara otomatis akan membuat dada membusung, pundak ke belakang  dan berdiri tegap.

Perhatikan untuk tidak sering menggerak-gerakkan kepala atau anggota tubuh yang tidak perlu, seperti menggeleng-gelengkan dan mengangguk-angukkan kepala, mengayun-ayun tangan atau kaki, menggerak-gerakkan jari jemari. Gerakan-gerakan ini menunjukan bahwa pembicara sedang ‘grogy’ atau tidak percaya diri.

Bila berdiri di depan podium atau meja untuk pembicara, manfaatkan meja podium ini dengan baik. Meja ini dapat dipakai untuk meletakan catatan kecil, meletakan tangan atau memegangnya ketika tangan mulai gemetar. Meja ini bisa menjadi pembatas antara yang pembicara dan yang hadir. Tapi ingat, banyak mata yang hadir akan terus memperhatikan pembicara walaupun ingin bersembunyi di belakang meja ini. Sebaiknya jangan terus-menerus berdiri kaku di belakang meja podium, berjalanlah di atas panggung dan lakukan gerakan tangan untuk menarik perhatian yang hadir. Bersamaan dengan ini aturlah nada, irama dan tekanan suara sehingga membuat yang hadir makin terpesona.

  • Kontak Mata. Berbicara di depan publik menjadi lebih efektif dengan menatap mata yang hadir. Hadapi yang hadir dengan baik dan percaya diri serta tataplah mata mereka ketika berbicara. Kontak mata dengan yang hadir akan membuat hubungan baik dengan mereka dan membuat pikiran mereka hanya tertuju kepada pembicara. Kontak mata menunjukan percaya diri, kejujuran dan keterbukaan. Sedang tidak adanya kontak mata menunjukan ketakutan, rasa bersalah atau ketidakjujuran.
  • Gerakan Tangan.  Gerakan tangan bila dilakukan dengan baik dan benar bisa memberi rasa tenang, nyaman dan senang kepada yang hadir. Gerakan tangan dapat dilakukan untuk menggarisbawahi atau mengarahkan perhatian yang hadir pada suatu hal yang menarik. Tapi jangan sering dilakukan. Ingat pembicara tidak sedang memimpin suatu kelompok pemusik. Gerakan yang terlalu banyak akan mengalihkan perhatian yang hadir dan bahkan seolah-olah menunjukkan bahwa pembicara sedang ‘grogy’ atau tidak tenang (nervous). Jadi kalau tidak perlu ada baiknya tidak menggerakan tangan sama sekali. Tangan bisa diletakan di sisi tubuh, di atas podium atau memegang mikrofon. Kalau ingin menegaskan pokok pembicaraan dapat dilakukan dengan berhenti bicara sebentar, tampilkan wajah serius atau rubah nada atau tekanan suara.
  • Tenangkan Hati. Memang berbicara di muka umum sering membuat pembicara menjadi tidak tenang atau bahkan ‘grogy’. Terlebih lagi bila yang hadir sangat banyak dan sangat beragam latar belakangnya. Oleh karena itu usahakan agar berbicara senyaman mungkin. Keadaan tidak tenang dan tidak nyaman ini bisa diatasi dan dihindari dengan melakukan berbagai teknik penenangan diri.  Beberapa cara untuk membuat diri merasa tenang adalah dengan: melakukan kegiatan rutin secara normal dan anggap berpidato atau memberi sambutan adalah kegiatan rutin; buatlah semua otot dan sendi tubuh menjadi relaks; sering berolah raga; memakai baju yang nyaman tapi tetap professional dan elegan;  bayangkan bahwa pidato yang akan dilakukan akan berhasil dengan baik; kalau bisa lakukan senam penenangan diri dan batin, misalnya yoga; selalu berlatih berbicara di muka umum; minta bantuan ahli berbicara di depan publik; bernapas perlahan dan dalam-dalam; dan minta sahabat atau teman berdiri dekat pembicara ketika berpidato, sering memberi sambutan atau berbicara di depan publik.
  • Penguasaan Bahasa. Penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan kemampuan berbicara dalam bahasa Indonesia merupakan salah satu syarat sebagai ahli berbicara di depan publik Indonesia. Demikian pula, seorang pembicara harus menguasai dan mampu berbicara dalam bahasa asing atau bahasa daerah bila berbicara di hadapan orang asing atau daerah tertentu. Berbicaralah dengan bahasa yang dipakai oleh sebagian besar yang hadir sehingga mereka dapat mengerti dan memahami yang dikatakan pembicara.

Ingat berbiaca di depan publik ada norma, tata cara dan ketentuannya. Pemakaian istilah-istilah yang umum dipakai oleh kelompok orang tertentu, misalnya para pebisnis atau ahli teknik, akan membuat pembicara lebih dihargai dan dipercaya oleh yang hadir. Sebaliknya hindarilah penggunaan kata-kata yang asing yang tidak dimengerti oleh orang-orang yang hadir pada acara ini. Hal ini akan membuat mereka menganggap pembicara sebagai orang asing atau aneh.

Sampaikan semuanya dalam bahasa yang sederhana, jelas dan mudah dimengerti.

  • Jangan sering mengulang kata-kata atau ungkapan yang tidak perlu. Secara tidak sadar ada pembicara sering mengulang atau mengungkapkan kata-kata, seperti: “Apa lagi, ya?; “Hmmm, …; “Oh, ya …”; “Sebenarnya…”; “Maksud saya,…”; dan sejenisnya. Hal ini sebaiknya jangan dilakukan. Ini akan menunjukkan pembicara mulai kehabisan ide dan tidak tahu lagi apa yang sebaiknya dikatakan.

 

2. Pelaksanaan

Dalam pelaksanaanya perhatikan hal-hal berikut:

  • Jangan langsung bicara ketika berada di atas panggung. Banyak orang langsung berbicara begitu berdiri di atas panggung. Pada hal ini salah satu ciri orang yang tidak tenang atau gugup (‘nervous)’, takut atau tidak nyaman. Sebaiknya, berjalan tenang ke atas panggung. Berhenti sebentar dan bernapas dalam-dalam. Setelah itu lihat dan pandanglah orang-orang yang hadir dan tunggu sampai mereka melihat pembicara, lalu tersenyumlah. Hal ini akan menunjukkan kepada yang hadir bahwa pembicara penuh percaya diri dan bisa mengatasi situasinya.
  • Sapalah yang hadir dengan rasa hormat dan penuh semangat terutama para pembesar dan para pesohor bila ada. Katakan kepada mereka terima kasih telah hadir dan mau mendengar idea atau gagasan pembicara. Ungkapkan juga bahwa pembicara merasa terhormat atas kehadiran mereka.
  • Berbicaralah perlahan dan tenang. Jangan berbicara tergesa-gesa atau dengan cepat. Perlu diperhatikan pada saat pembicara gugup dan jantungnya berdebar keras karena tidak tenang maka bicaranya menjadi sangat cepat. Keadaan ini akan diketahui oleh yang hadir sehingga yang hadir juga akan terpengaruh menjadi tidak tenang, mulai ribut dan berbicara satu sama lain membicarakan pembicara yang gugup. Sesungguhnya yang hadir juga menginginkan pembicara akan berhasil dalam penyampaikan gagasan atau idenya. Oleh karena itu berbicara perlahan saja, tidak terburu-buru atau cepat. Sampaikan semuanya sesuai dengan garis besar yang sudah ditulis sebelumnya. Niscaya ini akan membuat pidato atau sambutannya lebih berhasil.
  • Sekali lagi lakukan kontak mata dengan yang hadir. Tapi lakukan dengan tenang dan hati-hati. Sambil berbicara lihat satu orang atau sekelompok orang yang hadir sampai selesai satu kalimat lalu baru alihkan pandang dari yang satu kepada yang lain. Ingat bahwa pembicara tidak sedang bicara ‘kepada’ yang hadir tapi sedang berbicara ‘dengan’ yang hadir. Ini akan menciptakan hubungan baik antara pembicara dengan semua yang hadir dan mereka bisa merasakan hal itu.
  • Libatkan yang hadir dalam topik pembicaraan sehingga pembicara akan dianggap sebagai bagian dari yang hadir. Sebaiknya pembicara sedang memposisikan dirinya untuk menyampaikan suatu idea atau gagasan dan mengajak yang hadir untuk bersama-sama membicarakannya. Ini akan membuat yang hadir merasakan bahwa yang disampaikan adalah milik atau ide mereka juga. Jadi pastikan pembicara tidak meminta kepada yang hadir tapi memberi sesuatu kepada yang hadir dan akhirnya akan merasa itu milik mereka juga. Hal ini akan memberi kesan kepada yang hadir bahwa pembicara sedang memberi inspirasi, memberi sesuatu yang berarti dan bernilai, sesuatu yang baru kepada yang hadir.
  • Abaikan untuk sementara bila ada di antara yang hadir memberi ‘bahasa tubuh’ atau kesan seolah-olah yang dikatakan pembicara tidak benar, tidak sesuai, tidak disetujui atau kurang tepat. Fokuskan saja pandangan kepada lebih banyak orang yang memahami, mengerti, menikmati dan setuju dengan pokok-pokok yang dibahas. Perhatikan saja mereka ini karena mereka akan menambah percaya diri dan semangat pembicara.
  • Ubah rasa gugup menjadi sesuatu yang menyenangkan, memberi rasa nyaman. Berpikir positif. Bila pembicara mulai gugup, katakan kepada diri sendiri: “Tenang saja. Saya tidak gugup. Saya sedang menikmati pembicaraan saya karena banyak yang hadir menyukai ide, gagasan atau ajakan yang saya sampaikan.” Anggap saja jantung yang berdegub keras dan keringat yang mulai mengalir sebagai ungkapan rasa senang dan percaya diri bisa berhasil berbicara di muka umum. Bila ini bisa dilakukan maka ini akan berdampak sangat baik kepada sikap pembicara selanjutnya.
  • Jangan lupa untuk sesekali memakai bahasa tubuh saat berbicara di muka umum.
  • Berhentilah berbicara setiap 10 menit atau selesaikan pidato atau sambutan selama 10-15 menit. Pidato, sambutan atau penyampaian pesan yang lama akan membosankan yang hadir dan akan membuat mereka tidak tertarik lagi atau mengalihkan perhatiannya.
  • Katakan terima kasih kepada yang hadir setelah pembicara selesai menyampai idea atau gagasannya. Tepuk tangan, senyum dan kehadiran mereka adalah suatu hadiah kepada pembicara dan pembicara menghargai hadiah ini dengan mengucapkan terima kasih.

3. Evaluasi

Untuk memperbaiki keahlian berbicara di muka umum sebaiknya dilakukan evaluasi setiap kali selesai melakukan pidato atau penyampaian pesan kepada publik. Hal ini dilakukan dengan melihat catatan yang dibuat saat berpidato atau melihat rekaman video atau suara dari pidato atau penyampaian pesan tadi. Perhatikan kata-kata yang diucapkan apakah jelas dan jernih, kata-kata yang salah pengucapannya, kata-kata yang tidak perlu yang diulang-ulang, nada bicara dan tekan suara, gerakan tubuh atau komunikasi non-verbal, apakah ini terpaksa atau alami, cara berdiri di podium, cara tersenyum, cara memandang atau menatap yang hadir, cara menjawab pertanyaan atau mengatasi interupsi, apakah wajah pembicara terlihat gugup, terganggu atau ragu-ragu.

Dengan melakukan evalusai maka semua kesalahan yang tidak perlu akan dapat diperbaiki.

 

D. PENUTUP

Jadi ada beberapa cara untuk menjadi pembicara yang baik di muka umum. Sering berlatih, hilangkan rasa gugup dan kembangkan strategi untuk berhubungan dengan yang hadir. Persiapan yang matang sehingga bisa menyampaikan pesan dengan baik akan mengatasi kegugupan setiap kali tampil untuk bicara di depan publik. Hal terpenting, kembangkan percaya diri dan ingatkan diri sendiri bahwa sanggup melakukannya untuk menjadi pembicara yang handal.

 

Silakan kirim komentar dan pertanyaan ke:

bambanghsamekto@gmail.com

Komentar dan pertanyaan tidak akan dipublikasikan.