HIV/AIDS

HIV/AIDS

(Catatan: Keterangan dalam tulisan ini adalah informasi semata. Bila pembaca memang telah melakukan kehidupan seksual yang berisiko dan tidak aman serta memiliki gejala-gejala yang disebutkan dalam tulisan ini, janganlah melakukan upaya pengobatan sendiri. Pergi ke dokter, rumah sakit/klinik atau lembaga yang bergerak dalam pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS  terdekat untuk berkonsultasi dan mendapat informasi  dari petugas medis atau petugas lainnya. Istilah-istilah yang dipakai dalam tulisan ini adalah istilah medis/ilmiah dan tidak untuk maksud lain).

 

A. HIV/AIDS DI INDONESIA

Data Dirjen PP & PL, Kementerian Kesehatan RI (April, 2016) menunjukkan bahwa antara 1 April 1997 sampai 31 Maret 2016, jumlah orang yang dilaporkan terkena HIV sebanyak 198.219 orang dan yang terkena AIDS sebanyak 78,292 orang. Provinsi dengan penderita HIV terbanyak berturut-turut adalah DKI Jakarta (40.500 kasus), Jawa Timur (26.052), Papua (21.474), Jawa Barat (18.727), Jawa Tengah (13.574), Bali, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan seterusnya. Kelompok umur penderita terbanyak adalah kelompok umur 20 – 39 tahun. Laki-laki yang terinfeksi HIV tiga kali lebih banyak dari pada perempuan.

Menurut faktor risiko, orang yang terkena AIDS yang terbanyak adalah heteroseksual (51.692 orang), pemakai jarum suntik (8.835), homo-biseksual (2.304), penularan perinatal (hamil dan melahirkan) (2.226), transfusi darah (201) dan tidak diketahui sebabnya (12.398). Sedang penyakit penyerta yang menyebabkan kematian penderita AIDS terbanyak berturut-turut adalah TBC, kandidiasis, diare, dermatitis, PCP, herpes simpleks, ensifelopati, toksoplasmatis, limfadenopati generalisata, dan herpes zoster. 

Diperkirakan di Indonesia terjadi 70 ribu penularan HIV baru setiap tahun, 20 ribu di antaranya adalah anak-anak yang tertular dari orangtua. Statistik yang ada menunjukkan sebagian dari anak-anak itu tidak sempat merayakan ulang tahunnya yang ke-5.

Kementerian Kesehatan RI menganjurkan agar orang-orang berusia produktif (15 – 54 tahun) dari kalangan yang mempunyai kegiatan seksual berisiko tinggi, mempunyai pasangan terinfeksi HIV, ibu hamil dan remaja agar menjalani diteksi dini HIV. Oleh karena dengan semakin cepat seseorang diketahui terinfeksi HIV maka semakin besar kesempatan baginya untuk memperbaiki kesehatan dan mutu hidupnya.

Kerugian yang ditimbulkan oleh HIV/AIDS antara lain hilangnya tenaga kerja produktif karena sebagian besar orang yang terinfeksi HIV dan meninggal karena HIV/AIDS adalah orang-orang pada usia produktif serta hilangnya tenaga dan uang karena harus menangani penyebaran HIV/AIDS.

 

B. PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS

1. Pengertian

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus.

 Human atau manusiavirus khusus ini hanya menyerang manusia tidak mahluk lain.

 Immunodeficiency virus ini menyerang dan melemahkan sistim imun tubuh manusia dengan menghancurkan sel penting dalam tubuh, yang disebut CD4 +, sejenis sel darah putih yang melawan penyakit dan infeksi. Sistim imun yang lemah atau rusak tidak bisa melindungi tubuh sepenuhnya dari serangan penyakit, infeksi atau komplikasi lainnya. (CD4+ adalah istilah biologi molekuler , singkatan dari ‘cluster of differentiation/determinant 4 plus’)

 Virus virus ini hanya dapat berkembang biak dengan memanfaatkan sel  tubuh manusia.

Jadi HIV adalah virus yang hanya menginfeksi manusia dan menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga tidak bisa melawan jamur, bakteri, kuman atau virus yang menyerang tubuh. Setelah diserang HIV, sistem imun manusia tidak sanggup melawan dan membasmi HIV secara keseluruhan. Tidak seperti virus lainnya, tubuh manusia tidak dapat menghancurkan HIV sepenuhnya meskipun sudah diobati. Para ahli belum menemukan obatnya untuk mengalahkan virus HIV.  Sehingga orang yang sudah terinfeksi HIV akan memilikinya seumur hidupnya. Namun saat ini dengan pengobatan antiretroviral therapy atau ART yang memadai, tekun dan teratur, HIV dapat dikendalikan. Pengobatan ini dapat memperpanjang hidup pengidap HIV, menjaganya tetap sehat dan hidup wajar seperti orang sehat lainnya dan bisa mengurangi kemungkinan untuk menginfeksi orang lain.

AIDS singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome.

Sindrom ini berkembang ketika HIV sudah sangat merusak sistem kekebalan tubuh. AIDS adalah suatu kondisi atau tahap akhir disebabkan oleh infeksi HIV bila tidak diobati. Pada tahap ini sistem imun yang rusak tidak mampu melawan infeksi berbagai penyakit lain, sepert tuberkulosis (TBC), pneumonia, kanker dan infeksi penyakit lain.

Jadi HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah virus yang melemahkan dan merusak sistim kekebalan (imun) tubuh manusia yang bila tidak diobati membuat tubuh tidak mampu melawan infeksi berbagai penyakit lain sehingga dapat menyebabkan kematian.

2. Tempat hidup HIV

Dalam tubuh manusia, HIV bertahan hidup dalam cairan tubuh manusia, seperti: darah (termasuk darah haid), cairan vagina, cairan pra-ejakulasi pria, air mani (sperma) pria, cairan dalam dubur, dan air susu ibu (ASI). Oleh karena itu orang yang sudah terinfeksi HIV di dalam cairan tubuhnya itu mengandung HIV yang dapat menular kepada orang lain. HIV juga tetap hidup di cairan ini ketika berada di luar tubuh manusia, seperti darah untuk transfusi, darah di jarum suntik atau alat bedah lainnya, dan ASI yang disimpan dalam kulkas.

Untuk dapat menularkannya, cairan yang mengandung HIV ini harus langsung mengenai darah atau masuk ke aliran darah orang lain melalui kulit atau jaringan kulit tipis/halus (mucous membrance) yang luka, dimasukkan langsung ke dalam pembuluh darah (misalnya, melalui jarum suntik atau alat bedah terinfeksi HIV), atau masuk ke tubuh bayi ketika minum ASI dari ibu yang terinfeksi HIV. Jaringan kulit tipis/halus (mucous membrance) antara lain terdapat di dalam alat kelamin wanita dan servix, mulut dan kulit alat kelamin laki-laki yang tidak disunat, dubur,  mulut dan mata. Luka kecil, goresan dan luka terbuka di jaringan kulit ini memudahkan penularan HIV. Jadi penting sekali untuk memperhatikan agar tidak ada bagian atau jaringan kulit dan kulit tipis/halus (mucous membrance) yang luka kecil, tergores atau luka terbuka.

3. Cara Penularan HIV

Mengingat di mana HIV bisa hidup dan bagaimana HIV menular seperti yang diuraikan di atas maka HIV bisa tersebar kepada orang lain melalui cara-cara berikut:

  • Hubungan seks dengan orang terinfeksi HIV baik melalui alat kelamin, oral dan dubur.
  • Pemakaian alat bantu seks yang terkontaminasi HIV secara bersama-sama atau bergantian.
  • Melalui transfusi darah yang terkontaminasi HIV.
  • Pemakaian alat suntik dan perlengkapannya (seperti jarum dan tabung suntik, alat pembersihnya – kapas atau pembalut ) yang terkontaminasi HIV kepada orang lain atau secara bersama-sama bergantian (misalnya pada pemakai narkoba suntik).
  • Pemakaian alat bedah atau silet yang terkontaminasi HIV, seperti pada bedah mulut, tindik telinga, tatto atau pemakai narkoba dengan mengiris kulit.
  • Dari ibu terinfeksi HIV kepada janin/bayi pada masa kehamilan, ketika melahirkan atau menyusui.

Penularan HIV melalui hubungan seks

Penyebaran HIV melalui hubungan seks baik  vaginal atau anal tanpa pelindung (kondom) adalah cara penularan HIV yang banyak terjadi, khususnya pada orang yang salah satu pasangannya tidak tahu bahwa dia sudah terinfeksi HIV. Pada hal pada awal terinfeksi HIV inilah jumlah viral HIV sangat banyak jumlahnya. Penularan HIV ini tetap terjadi walaupun pria mengeluarkan air maninya di luar vagina (‘azl). Ini disebabkan dalam darah dan cairan wanita atau pria itu sudah terdapat HIV.

Penularan HIV melalui seks oral akan mudah terjadi jika orang yang melakukannya sedang sakit sariawan, luka di bagian mulut atau luka di gusi. Seks oral dengan pria yang positif HIV dan pria itu ejakulasi di mulut pasangannya  dan seks oral dengan wanita yang positif HIV sangat mungkin menularkan HIV.

Penularan HIV melalui transfusi darah

Pada awal mewabahnya HIV/AIDS banyak orang tertular HIV karen transfusi darah yang mengandung HIV kepada orang yang belum tertular HIV. Namun demikian dengan semakin berkembangnya pengetahuan tentang HIV dan makin canggihnya cara-cara deteksi HIV dalam darah maka setiap kantung darah yang akan ditransfusi kepada orang lain sudah diperiksa di laboratorium darah untuk mengetahui apakah darah itu mengandung HIV atau tidak. Kantung darah yang mengandung HIV akan langsung dimusnahkan dan tidak dipakai lagi untuk transfusi darah. Saat ini orang yang tertular HIV karena transfusi darah sudah makin sedikit.

Penularan HIV melalui alat suntik

Penularan HIV melalui alat suntik terjadi karena jarum, tabung dan alat pembersihnya tidak steril dan bekas dipakai oleh/terhadap orang yang terinfeksi HIV. Pada pemakai narkoba suntik (penasun) karena rasa kebersamaan atau penghematan maka satu alat suntik dipakai secara bergantian untuk menyuntik narkoba dari satu orang kepada orang-orang lainnya. Biasanya narkoba suntik ini dipakai bersama-sama 3 sampai 4 orang. Apabila salah seorang pemakainya telah terindeksi HIV maka alat suntik itu juga terkontaminasi HIV dan kemudian akan menularkan HIV kepada yang lainnya. Itulah sebabnya pemakaian narkoba suntik yang terinfeksi HIV akan mempercepat penyebaran HIV.

Penularan HIV dari ibu kepada janin/bayi

Penularan HIV dari ibu kepada janin/bayi terjadi pada ibu yang positif terinfeksi HIV pada masa kehamilan, melahirkan atau menyusui. Ibu hamil sering kali tidak tahu kalau dia terinfeksi HIV atau ibu yang terkena HIV sering juga tidak tahu kalau dia hamil. Hal ini disebabkan antara lain karena ibu yang positif terinfeksi HIV sering kesulitan untuk mendapat perawatan medis dan pemeriksaan kesehatan kehamilannya, ditolak petugas kesehatan, tidak terawat, menderita secara psikologi, dan juga tidak mempunyai asuransi kesehatan. Keadaan ini akan tambah menyulitkan ibu hamil yang terinfeksi HIV untuk memperoleh pengobatan agar HIV yang ada dalam dirinya tidak menular kepada janin/bayinya.

4. Bukan Cara Penularan HIV

Kandungan HIV tidak cukup banyak dalam air liur, keringat, atau urine sehingga kecil kemungkinannya untuk bisa menular kepada orang lain. Berciuman dengan orang terinfeksi HIV dari mulut ke mulut yang di dalamnya terdapat luka (seperti sariawan berat, luka di gusi atau di bibir) bisa menularkan HIV walaupun kecil sekali kemungkinannya. Walaupun demikian, sebaiknya hindari cara berciuman yang berat.

HIV juga tidak menular dari penderita HIV kepada orang lain dengan bersalaman, dicubit, dielus, dipijat, dipeluk, cipika-cipiki, berbagi perlengkapan mandi, handuk, peralatan makan, memakai toilet atau kolam renang yang sama, melakukan onani atau masturbasi, atau digigit binatang dan serangga, seperti nyamuk. HIV tidak ditularkan melalui udara sehingga tidak akan menular melalui batuk, bersin atau flu.

5. Tahap Perkembangan dan Gejala HIV/AIDS

Diketahui ada 3 tahap perkembangan penyakit HIV/AIDS, yaitu tahap awal (primary infection atau acute infection), tahap laten (clinical latency) dan tahap AIDS.

a. Tahap Awal (Primary Infection atau acute infection)

Banyak orang tidak merasakan atau mengalami gejala apapun pada saat dan segera setelah terinfeksi HIV. Tahap awal infeksi HIV bisa berlangsung dua sampai empat minggu. Tahap awal ini berlangsung sampai tubuh menciptakan sel  kekebalan tubuh untuk melawan HIV.  Pada tahap ini HIV berkembang biak sangat cepat dan sistim kekebalan tubuh mencoba untuk melawan HIV. Tapi HIV tak bisa dikalahkan oleh sel kekebalan tubuh sehingga HV dapat hidup terus untuk selamanya.

Gejala:

Pada beberapa orang ada yang mengalami gejala mirip flu dalam satu atau dua bulan. Tanda atau gejala tahap awal HIV antara lain:

  • Demam atau panas. Ini menyerupai demam biasa, yaitu suhu tubuh bisa mencapai antara 38-40 derajat Celsius. Demam ini terjadi karena tubuh membentuk sel anti body (kekebalan tubuh) untuk melawan virus.
  • Sakit kepala. Ini adalah efek dari timbulnya demam. Ketika demam muncul maka akan disusul dengan sakit kepala. Namun gejala ini tidak selalu ada.
  • Nyeri otot. Sakit atau pegal-pegal pada badan yang menyerupai kondisi umum demam ini disebabkan oleh infeksi HIV tahap awal. Pegal-pegal ini berbeda dengan ketika tubuh kelelahan. Nyeri otot ini akibat pengaruh demam.
  • Ruam di kulit, seperti kulit kering dengan bercak-bercak. Namun ruam di kulit ini tidak selalu ada dan tidak nampak jelas. Hal ini sering diabaikan karena tidak nampak jelas seperti ketika orang terserang campak.
  • Tubuh menggigil. Ketika suhu tubuh naik tinggi dibanding keadaan suhu normal maka tubuh akan menggigil.
  • Sakit tenggorokan. Rasa sakitnya seperti ketika orang terkena radang tenggorokan.
  • Sariawan di mulut atau luka kecil di kulit kelamin.
  • Pembesaran kelenjar getah bening, khususnya di leher.
  • Nyeri pada sendi.
  • Berkeringat di malam hari.

Gejala-gejala ini akan hilang dengan sendirinya.

Meskipun gejala-gejala pada tahap awal infeksi HIV ini (primary Infection atau acute infection) ini cukup ringan, namun jumlah kandungan virusnya dalam darah (viral load) sangat tinggi. Sebagai akibatnya, infeksi HIV akan menyebar lebih efektif selama masa awal infeksi ini dari pada selama tahap berikutnya. Orang yang terinfeksi HIV pada tahap awal ini sangat mungkin menularkannya kepada orang lain karena kandungan virus dalam darahnya sangat tinggi dan seringkali penderita tidak tahu bahwa dia telah terinfeksi HIV.

Jadi jangan sampai terlambat, orang yang mempunyai perilaku dan kehidupan seksual yang berisiko dan memiliki gejala-gejala seperti tersebut di atas, segeralah pergi ke dokter, rumah sakit atau kliknik terdekat untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan dini HIV. Lebih cepat lebih baik.

b. Tahap Laten HIV (clinical latency)

Tahap ini disebut sebagai masa laten HIV (clinical latency) karena secara klinis (taraf, tanda-tanda atau gejala-gejala kesehatannya) tidak tampak gejalanya, pada hal HIV sedang terus berkembang biak secara aktif tapi tersembunyi. Masa atau lama waktu perkembangan HIV pada tahap ini (clinical latency) berbeda antara satu dengan orang lain. Tahap ini dapat berlangsung antara beberapa bulan sampai lebih dari 10 tahun.

Tidak ada gejala:

Pada tahap laten HIV (clinical latency) ini HIV terus berkembang biak secara aktif, menyerang dan membunuh sel-sel kekebalan tubuh. Sel-sel kekebalan tubuh yang diserang HIV adalah sel-sel yang melawan infeksi primer yang disebut CD4+.  Sel kekebalan tubuh ini  adalah protein yang berfungsi  mengenali dan menghancurkan kuman berbahaya, seperti bakteri atau virus. Munculnya sel kekebalan di dalam tumbuh biasanya menandakan adanya infeksi pada saat itu. Pada tahap ini seseorang yang terinfeksi HIV kemungkinan tidak memiliki gejala apapun. Salah satu gejala dialami beberapa orang adalah pembengkakan kelenjar getah bening, khususnya yang terdapat di leher.

Pada fase ini seseorang hanya dapat diketahui telah terinfeksi HIV berdasarkan pemeriksaan darahnya di laboratorium untuk mengetahui  jumlah sel CD4+ (sel kekebalan tubuh) terhadap HIV dan bukan untuk mengetahui keadaan virus itu sendiri. Pada tahap awal infeksi HIV (Primary Infection atau acute infection), orang yang terinfeksi HIV jumlah sel CD4+ atau sel kekebalan tubuhnya akan menurun dengan sangat cepat.  Namun pada tahap laten HIV (clinical latency) jumlah sel CD4+ atau sel kekebalan tubuhnya akan tetap menurun dan HIV akan terus meningkat. Test darah yang dipakai untuk menandai adanya infeksi HIV, antara lain test HIV ELISA dan Western Blot. Test ini hanya dapat dilakukan oleh laboratorium medis tertentu saja yang sudah tersertifikasi.

Pada tahap laten HIV (clinical latency) ini virusnya terus berkembang biak dalam jumlah sedikit. Bila orang yang terinfeksi HIV diobati dengan kombinasi anti retroviral therapy atau cART dengan baik, benar, teratur dan terus menerus setiap hari maka jumlah virusnya akan menurun dan bahkan tidak akan terdeteksi dan jumlah sel CD4+ atau sel kekebalan tubuhnya akan terus meningkat. Namun bila orang yang terinfeksi HIV tidak diobati dengan kombinasi anti retroviral therapy atau cART dengan baik, benar, teratur dan terus menerus setiap hari maka jumlah virusnya akan meningkat dan jumlah sel CD4+ atau sel kekebalan tubuhnya akan terus menurun. Apa bila hal ini terjadi maka orang yang terinfeksi HIV akan meningkat ke tingkat AIDS dengan gejala-gejala umum yang terjadi pada penderita HIV.

Jadi jangan sampai terlambat, orang yang mempunyai perilaku dan kehidupan seksual yang berisiko dan memiliki gejala-gejala seperti tersebut di atas, segeralah pergi ke dokter, rumah sakit atau klinik terdekat untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan dini HIV. Lebih cepat lebih baik.

c. Tahap AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)

Setelah bertahun-tahun terinfeksi HIV dan tidak diobati dengan cARV dengan baik dan teratur maka kekebalan tubuh orang yang terinfeksi HIV akan makin lemah dan rusak parah. Pada tahap ini jumlah sel CD4 akan berada di bawah 200 sel/mm3. (Pada hal sistim kekebalan tubuh yang sehat memiliki jumlah sel CD4  antara 500 – 1.600 sel/mm3). Orang ini akan mudah diserang penyakit lain yang disebabkan oleh jamur, bakteri atau virus. Pada keadaan ini HIV akan berkembang menjadi AIDS  apaila terserang salah satu penyakit penyerta lainnya, seperti TBC atau kanker .

Gejala:

Pada tahap menjelang AIDS, penderita HIV akan mengalami gejala-gejala sebagai berikut:

  • Mengalami demam tinggi yang berkepanjangan.
  • Mengalami napas pendek, batuk, atau nyeri dada
  • Kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah
  • Diare yang lama dan tak kunjung sembuh walaupun telah diobati. Diare ini bisa disebabkan oleh berbagai kuman, seperti bakteri dan parasit
  • Badan lemah
  • Berat badan turun
  • Peradangan pada kerongkongan
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, yaitu: di leher, ketiak, dan lipatan paha.
  • Sakit kepala
  • Sulit berkonsentrasi
  • Tekanan darah rendah
  • Cacar air
  • Infeksi di jaringan kulit rambut
  • Ruam kulit atau kulit kering
  • Sariawan, luka di sekitar bibir, mulut atau di gusi

Sekali lagi, jangan anggap enteng dan jangan sampai terlambat, orang yang mempunyai perilaku dan kehidupan seksual yang berisiko dan memiliki gejala-gejala seperti tersebut di atas, segeralah pergi ke dokter, rumah sakit atau klinik terdekat untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan dini HIV. Lebih cepat lebih baik.

6. Upaya Pengobatan

Meski belum ada obat untuk sepenuhnya menghilangkan HIV, upaya pengobatan antiretroviral  (ARV) yang ada pada saat ini cukup efektif. ARV sangat efektif untuk pencegahan, karena orang yang meminum ARV dapat memiliki pasangan yang tidak tertular HIV. ODHA dengan viral load (VL) < 1500, sangat sedikit kemungkinan bisa menularkan HIV karena jumlah viral load yang merupakan faktor utama penularan HIV. Dengan ARV, prevalensi HIV bisa turun dari 10,3% menjadi 1,9%. ODHA yang minum ARV membantu menurunkan penularan sebesar 80%. ARV mencegah penularan heteroseksual di mana penularan lebih sering dari laki-laki ke perempuan. Pengobatan ARV dalam waktu lama membuat CD4 mengalami kenaikan sehingga dapat memiliki jumlah kandungan yang sama dengan orang sehat.

Pengobatan yang dilakukan bisa memperpanjang usia hidup penderita HIV dan hidup normal. Obat antiretroviral (ARV) berfungsi menghambat virus dalam merusak sistem kekebalan tubuh. Obat-obatan tersebut diberikan dalam bentuk tablet yang harus dikonsumsi setiap hari. Terapi ARV telah menjadi alat pencegahan yang sangat efektif. Suami yang positif HIV tetapi minum obat ARV secara teratur dapat memiliki keturunan tanpa harus menularkan HIV/AIDS kepada istri dan anaknya.

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mendapat terapi ARV disarankan melakukan pola hidup sehat, misalnya dengan mengkonsumsi makanan sehat, tidak merokok, mendapatkan vaksin flu tahunan dan vaksin pneumokokus lima tahunan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko terkena penyakit berbahaya lainnya. Tanpa pengobatan, orang yang terserang HIV, sistem kekebalannya akan menurun drastis. Hal ini cenderung membuat penderita HIV dapat terserang penyakit yang mematikan, seperti TBC atau kanker.

Ibu Hamil Positif HIV

Ibu yang positif HIV tapi ingin hamil atau sudah hamil dapat belajar dan berusaha untuk memperkecil kemungkinan agar janin/bayinya tidak terinfeksi HIV.  Ini dapat dilakukan dengan mendapat pengobatan ARV selama  masa kehamilan dan setelah melahirkan tanpa terputus; pemeriksaan dan perawatan kehamilan secara teratur; pencegahan infeksi penyakit lain; memilih cara melahirkan yang lebih aman, yaitu sesar; tidak memberi ASI kepada bayinya; tidak memberi makanan yang dikunyahnya kepada bayi; pemantauan, pemeriksaan dan perawatan bayi sampai balita dan seterusnya; pemberian ARV kepada  bayi; serta mendapatkan perawatan kesehatan, dukungan, perhatian yang seksama dari keluarga dan petugas medis.

Obat-obatan ARV sudah dapat diproduksi oleh industri farmasi di Indonesia. Dengan dukungan dana dari Kementerian Kesehatan RI, obat-obat ARV dapat didistribusikan ke rumah-rumah sakit yang melayani pengobatan ODHA. Namun demikian karena pendeteksian orang yang terinfeksi HIV terbatas maka ODHA yang dijangkau dan mendapat terapi ARV juga terbatas. Oleh karena itu Kementerian Kesehatan RI sangat gencar mensosialisasikan pendekatan TOP (Temukan, Obati dan Pertahankan).

7. Orang Yang Berisiko terinfeksi HIV

Setiap orang berisiko terinfeksi HIV tanpa mengenal batasan usia. Secara khusus ada orang-orang yang lebih berisiko terinfeksi HIV. Orang-orang ini adalah:

  • Orang yang perilaku dan kehidupan seksualnya berisiko dan tidak sehat. Orang ini melakukan hubungan seksual dengan sering berganti-ganti pasangan, baik heteroseksual atau sesama jenis, atau dengan pengguna narkoba suntik, yang tidak menggunakan pengaman (misalnya kondom).
  • Pengguna narkoba suntik (penasun) bersama-sama teman yang terinfeksi HIV dengan cara satu alat suntik dipakai bergantian.
  • Orang yang membuat tatto atau memakai tindik di tubuhnya dengan alat yang tidak steril.
  • Orang yang menerima transfusi darah di wilayah dengan angka prevalensi HIV yang tinggi.
  • Bayi yang ibunya sudah terinfeksi HIV.
  • Orang yang sudah terinfeksi penyakit seksual lainnya, seperti gonorea, syphilis.

 

C. PENCEGAHAN HIV/AIDS

Untuk pencegahan penularan HIV ada tiga pendekatan yang dipakai, yaitu:

1. Peningkatan Kesadaran Publik.

Upaya peningkatan kesadaran publik untuk merubah pengetahuan, pemahaman, perilaku dan kehidupan seksual yang berisiko, tidak sehat dan menyimpang agar tidak tertular HIV, yaitu dengan:

  • Mempelajari dengan seksama pengertian HIV/AIDS, tempat hidup HIV, cara penularan HIV, tahap perkembangan dan gejala HIV/AIDS, pengobatan HIV, orang-orang yang paling berisiko tertular HIV, dan cara pencegahan HIV/AIDS.
  • Mencegah HIV/AIDS adalah dengan:

– Hindari perilaku dan kehidupan seksual yang berisiko, menyimpang dan tidak sehat, seperti  seks bebas, berganti-ganti pasangan seksual, menyeleweng, hubungan seksual tidak wajar.
– Gunakan kondom, terutama untuk kelompok berperilaku resiko tinggi.

– ODHA jangan menjadi pendonor darah.
– Ibu yang didiagnosa positif HIV sebaiknya jangan hamil. Ada petunjuk medis kalau pasangan tetap ingin mempunyai anak.
– Gunakan alat suntik sekali pakai dan alat bedah medis yang steril.

– Jauhi narkoba, khususnya narkoba suntik.

  • Menerapkan upaya pencegahan ‘ABCDE’ dengan benar dan taat, yaitu:

A Abstinence ( puasa hubungan seksual). Sebaiknya orang tidak melakukan hubungan seksual sama sekali, terutama bagi orang yang belum memiliki pasangan resmi.

B Be Faithful (setia). Setiap pasangan harus setia satu sama lain, suami/istri hanya melakukan hubungan seks dengan suami/istrinya saja, tidak ganti-ganti pasangan, tidak menyeleweng atau ‘jajan’.

C Condom (gunakan kondom). Maksudnya, bila melakukan hubungan seksual dengan suami/istri yang terinfeksi HIV atau PMS lainnya dan berisiko hamil atau terinfeksi HIV maka pakailah kondom.

D Drugs (narkoba). Jangan pakai narkoba dan tidak menggunakan alat dan jarum suntik untuk narkoba secara bergantian.

E Education (Pendidikan). Lakukan pendidikan dan penyuluhan kesehatan yang berkaitan dengan pencegahan penularan HIV/AIDS.

 

  • Menerapkan TOP yang digagas Kementerian Kesehatan RI, yaitu:

T – Temukan. Mendorong upaya menemukan ODHA.

O- Obati. Mendorong segera mengobati ODHA dengan ARV.

P – Pertahankan. Pertahankan kwalitas hidup ODHA yang sudah menjalankan pengobatan ARV.

  • Jalankan kewajiban dan ajaran agama dengan penuh iman, bersungguh-sungguh, secara seksama dan berkesinambungan.

 

2. Upaya Biomedik.

Upaya ini ini antara lain dilakukan dengan:

  • Orang yang positif tertular HIV harus secara teratur tanpa terputus makan obat ARV setiap hari dan menjaga kondisi kesehatan dengan baik agar kekebalan tubuh pulih kembali sehingga jumlah kandungan viral HIV di tubuh menjadi sesedikit mungkin. Pada kondisi seperti ini maka kemungkinan untuk menularkan HIV menjadi sangat kecil. Namun demikian, bila berhubungan seksual harus tetap memakai kondom. Bila suatu saat pasangan yang salah satunya mengidap HIV ingin punya anak, ini bisa diupayakan dengan teknologi bayi tabung atau buka kondom pada masa subur.
  • Upaya biomedik lainnya yang sangat berhasil menurunkan penularan virus HIV adalah dengan sunat (circumcision) pada laki-laki. Sunat ini terbukti mencegah efektifitas penularan sebesar 58,76 %.
  • Pencegahan Penularan HIV pada ibu Hamil ke Janin/Bayi (prevention of mother to child transmission/PMTCT). Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke janin/bayi mulai dapat dilakukan bila sudah terdeteksi melalui voluntary counseling and testing (VCT) atau penapisan dan konseling sukarela. Seperti disebutkan di atas, selanjutnya  ibu hamil perlu menjalankan perilaku sehat, pengobatan dengan ARV tanpa terputus setiap hari untuk menurunkan jumlah/kandungan viral (viral load) serendah-rendahnya, mendapat perawatan kehamilan secara teratur, pencegahan infeksi, memilih  cara melahirkan melalui sesar,  tidak memberi  ASI, tidak memberi makanan yang dikunyahnya kepada bayi, pemantauan, pemeriksaan dan perawatan bayi sampai balita dan seterusnya, pemberian ARV kepada  bayi, serta mendapatkan perawatan kesehatan, dukungan, perhatian yang seksama dari keluarga dan petugas medis.

Perlu diketahui penularan HIV ke janin/bayi kemungkinan bisa terjadi pada saat janin dalam kandungan atau pada saat bayi dilahirkan. Penularan HIV pada saat janin dalam kandungan disebabkan antara lain tingginya jumlah kandungan viral (viral load) pada ibu hamil, sistim imun yang sangat rendah, ada infeksi virus, bakteri atau parasit lain, kekurangan vitamin A, dsbnya. Sedang penularaan HIV ke bayi pada saat melahirkan secara normal antara lain bisa disebabkan karena ketuban pecah dini, perdarahan dalam rahim, atau prosedur kelahiran yang dipaksakan. Sedang pada sisi bayi, bayinya lahir premature, berat badan lahir rendah, ada luka di mulut bayi, dan pada saat diberi ASI. Namun demikian, penularan HIV dari ibu hamil kepada bayi dapat dicegah dan dikurangi dengan beberapa pilihan cara pemberian ARV (Hal ini sangat teknis medis sehingga tidak dijelaskan di sini. Keterangan rinci tentang hal ini dapat diperoleh dari dokter ahli).

Tentu saja pencegahan utama yang dapat dilakukan agar tidak ada janin/bayi tertular HIV adalah dengan meminta ibu yang HIV positif untuk tidak hamil. Ini dapat dilakukan dengan memakai alat kontrasepsi, misalnya kondom.

3. Upaya pencegahan struktural.

Ini adalah upaya pencegahan yang lebih mendasar dalam kehidupan masyarakat, seperti memperbaiki pelayanan kesehatan untuk ODHA, ekonomi, budaya, hukum, hak dan kewajiban ODHA, HAM, perlindungan ODHA, dan kesetaraan gender.

Menurut informasi Kementerian Kesehatan RI, di Indonesia pelayanan kesehatan untuk ODHA terdapat di  420 rumah sakit pemerintah dan swasta di seluruh provinsi dan sebagian besar kabupaten/kota, dan 120 puskesmas/klinik/pusat kesehatan masyarakat pemerintah dan swasta pada tingkat kecamatan/kelurahan/desa.

Dalam upaya pencegahan struktural HIV/AIDS ini, pemerintah harus meningkatkan budget, keahlian tenaga medis dan tenaga pendukung lainnya, peralatan laboratorium pemeriksaan darah yang mutakhir, peralatan dan obat-obatan yang cukup jumlahnya untuk ODHA dan kegiatan penyuluhannya. Dengan demikian upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien.

 

D. PERLINDUNGAN DAN PELAYANAN KEPADA ODHA

Pada awal merebaknya HIV/ADIS dapat dikatakan hampir semua keluarga ODHA panik dan khawatir tertular HIV sewaktu mengetahui ada anggota keluarganya yang terinfeksi HIV. Sebagai akibatnya banyak ODHA yang dikucilkan keluarganya, sebagian besar tidak mau makan bersama di satu meja dengan adik atau kakak kandungnya yang ODHA, meskipun telah diberi penyuluhan. Ada pula keluarga yang memindahkan adik, kakak atau suaminya yang terinfeksi HIV, ke rumah di luar kota atau ke hotel.

Kemudian pada 1990an, Yayasan Pelita Ilmu (YPI) di Jakarta memperkenalkan Sanggar Kerja. Di Sanggar Kerja ini keluarga ODHA bisa melihat langsung dan terlibat dalam tata cara perawatan ODHA di rumah, tinggal, hidup, makan bareng di satu rumah bersama relawan, staf dan dokter, tanpa ada yang khawatir tertular. Setelah meninjau aktivitas Sanggar Kerja YPI, tidak ada lagi anggota keluarga yang menolak kehadiran ODHA di rumahnya sendiri.

Bisa dikatakan, sikap yang menolak dan mengucilkan timbul karena kurang pengetahuan dan pemahaman mengenai pengetahuan dasar penyakit menular HIV/AIDS. Pengalaman membuktikan bahwa sikap masyarakat yang salah dapat berubah menjadi sikap benar, baik dan mendukung walaupun untuk ini diperlukan penyuluhan dan kesabaran, pemberian informasi yang berkesinambungan, dan contoh nyata di lapangan. Kunci ini semua adalah pendidikan peningkatan kesadaran publik yang dirancang secara baik dan dievaluasi secara berkala.

Undang-undang internasional mengenai HAM menjamin hak perlindungan hukum dan kebebasan dari segala bentuk diskriminasi berdasarkan warna kulit, jenis kelamin, bahasa, politik, tingkat sosial-ekonomi, dan sebagainya. Tindakan diskriminatif terhadap ODHA tidak hanya keliru dan salah, tapi juga akan menimbulkan dan mempertahankan kondisi yang memudahkan penularan HIV/AIDS. Diskriminasi menciptakan suasana lingkungan yang menyulitkan perubahan perilaku dan menghambat masyarakat menanggulangi masalah HIV/AIDS.

Perlindungan HAM bagi ODHA adalah hal yang mendasar untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Kepentingan kesehatan masyarakat sebetulnya tidak berlawanan dengan perlindungan HAM untuk ODHA. Sudah terbukti bahwa bila HAM dilindungi maka ODHA dan keluarganya dapat hidup tenang, lebih sehat, mempunyai harga diri, mampu menghadapi masalah penyakit HIV/AIDS dengan lebih baik, dan berperilaku sehat sehingga memperkecil risiko penularan. Jadi, perlindungan HAM bagi ODHA juga penting untuk mendukung program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS yang efektif.

Selanjutnya, bila terbukti positif HIV dan mereka tidak merasa dikucilkan atau didiskriminasi, besar kemungkinkan mereka akan lebih mudah menghadapi kenyataan, mau menjaga diri dan lingkungannya, tidak akan dengan sengaja menularkan HIV. Ini semua karena mereka sudah mendapat konseling, pendampingan dan akses kepada pengobatan.

ODHA mempunyai hak untuk menikah dan berkeluarga, untuk hamil dan mempunyai anak. Seorang wanita yang positif HIV hamil dan ia ingin melanjutkan kehamilannya maka bayinya juga mempunyai hak untuk dilahirkan normal tanpa cacat. Untuk melindungi hak bayi, termasuk untuk menghindarkannya dari penularan HIV dari ibunya, ODHA perempuan tersebut perlu mendapat layanan dan pengobatan sewaktu hamil, melahirkan maupun sesudah melahirkan.

ODHA berkewajiban menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungannya dan mencegah penularan HIV dari dirinya ke orang lain. Bila ODHA pergi ke dokter, dokter gigi, bidan, atau harus dirawat di rumah sakit, ia perlu memberitahukan status HIV-nya. ODHA harus terus terang menyatakan dirinya terinfeksi HIV kepada kekasih, teman dekat atau calon suami/istrinya. Bila melakukan hubungan seks ODHA juga harus selalu memakai kondom. Saat ini cukup banyak ODHA yang berkeluarga.

Dengan program advokasi yang dengan gigih dijalankan oleh dokter dan relawan pendekar pencegahan HIV/AIDS dan LSM-LSM Peduli AIDS dan pemahaman yang makin baik mengenai HIV/AIDS oleh pejabat pemerintah, wartawan, pemuka agama, selebriti dan pemuka masyarakat, maka opini mengenai sikap yang benar terhadap ODHA mulai terbentuk di masyarakat sehingga  ODHA dapat diterima masyarakat dengan baik. Sikap masyarakat yang sebelumnya menolak dan menghukum ODHA, dapat diubah menjadi sikap yang wajar. Kemajuan yang lain adalah sekarang ini, manajemen rumah sakit sudah mengetahui bahwa menolak merawat ODHA adalah sikap yang salah, dan melanggar peraturan. Sekarang makin banyak rumah sakit yang memahami mengapa tidak boleh menolak pasien HIV/AIDS.

Semoga dengan pendekatan TOP (Temukan, Obati dan Pertahankan) akan makin banyak ODHA yang diobati.

 

E. RENCANA MENGHADAPI HIV/AIDS

Untuk mencegah penularan HIV/AIDS setiap orang harus mempunyai rencana. Rencana ini antara lain meliputi:

  • Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan perilaku sehat dalam penegahan HIV/AIDS.
  • Bergabung dalam kegiatan peningkatan kesadaran publik untuk pencegahan HIV/AIDS berbasis masyarakat, khususnya masyarakat siaga pencegahan HIV/AIDS dan Kelompok TOP.
  • Turut serta dan mendukung pendidikan kegiatan pencegahan HIV/AIDS di sekolah.
  • Mengikuti kegiatan pelatihan teknis dan keterampilan kerja dalam rangka pencegahan HIV/AIDS (seperti pertukangan, pertanian, peternakan, keterampilan usaha, industri rumah tangga dan sejenisnya). Ini dimaksudkan untuk meningkatkan keadaan ekonomi masyarakat sehingga tidak rentan dalam menghadapi HIV/AIDS.
  • Sedapat mungkin melakukan pengobatan pre-exposure prophylaxis (PrEP), yaitu upaya pemberian obat untuk pencegahan HIV pada orang yang tidak terinfeksi HIV tapi mempunyai hubungan yang sangat dekat dan intensif dengan orang yang positif tertular HIV, misalnya suami atau istri. Tapi PrEP ini hanya akan efektif bila digunakan sesuai dengan anjuran dokter dan diminum setiap hari.
  • Meningkatkan upaya pencegahan biomedik.

 

F. PENUTUP

Dapat disimpulkan bahwa upaya pencegahan penularan HIV dapat dilakukan dengan peningkatan kesadaran publik untuk merubah pengetahuan, pemahaman, perilaku dan kehidupan seksual berisiko; melakukan upaya biomedik melalui obat anti retroviral (ARV), program prevention of mother to child transmission (PMTCT), sunat (sirkumsisi) pada pria, pemakaian kondom, dan pengobatan penyakit menular seksual; serta melakukan upaya struktural dalam bidang ekonomi, budaya, pendidikan, hukum, dan kesetaraan gender, serta pembangunan, pemberdayaan dan peningkatan pusat pelayanan medis bagi ODHA.

Silakan kirim komentar atau pertanyaan ke:

bambanghsamekto@gmail.com

Komentar atau pertanyaan tidak akan dipublikasikan.