ISLAM DAN PRB

ISLAM DAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA

 

Pengurangan Risiko Bencana di Indonesia menjadi spesifik karena di Indonesia banyak penduduknya beragama Islam sehingga dirasa perlu untuk memasukkan beberapa referensi dari Al-Qur’an yang terdapat dalam firman Allah SWT berkenaan dengan pemahaman terhadap bencana. Dalam perspektif Al Quran dan Hadist, kasus bencana alam harus diyakini berdasarkan empat sebab dan paradigma:

 

Pertama, bencana alam adalah murni sunnatullah yang tidak dapat dihindari. Manusia tidak dapat berbuat banyak untuk mencegahnya. Di dalam Al Quran disebutkan: “Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,”. (QS. Al Ahzab : 38).  Al Quran menyatakan setiap orang cepat atau lambat akan menjumpai takdirnya.

Sunnatullah ini berlaku bagi semua makhluk Allah. Kondisi alam seperti saat ini dapat dikatakan sebagai bencana alam atau kiamat kecil, sampai pada akhirnya terjadi bencana yang maha dahsyat. Itulah yang disebut dengan kiamat.

Al Qur’an menjelaskan “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di Padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” (QS. Ibrahim : 48). Demikian pula  “Kiamat itu tidak akan datang sampai banyaknya terjadi bencana-bencana seperti gempa bumi, pembunuhan…”. (HR. Bukhari).  Dari paradigma ini dapat dimengerti bahwa bencana alam terjadi karena kehendak Allah SWT.

 

Ke dua, bencana alam adalah cobaan dan ujian Tuhan kepada hamba-Nya. Al Quran menyatakan: “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati; Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al Anbiyaa’: 35). Dalam ayat ini jelas Allah mengatakan bahwa manusia akan dicoba dan diuji baik melalui kejadian-kejadian yang baik maupun buruk.

Oleh karena itu setiap peristiwa yang terjadi pada diri seseorang dalam hidupnya merupakan ujian baginya. Hanya orang yang beriman akan memahami makna dari peristiwa yang rumit itu. Mengapa manusia diciptakan untuk diuji dan diberi cobaan, diterangkan dalam ayat berikut: “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya (Singgasana-Nya) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Huud : 7).

 

Ke tiga, bencana alam adalah peringatan Allah SWT. Peringatan dalam bentuk bencana itu diungkapkan dalam ayat berikut: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Ruum : 41).

Dalam Surat Al-Qashas Ayat 77, Allah memperingatkan pula: “Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan”. Kedua ayat di atas memperingatkan manusia untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi, seperti merusak lingkungan hidup, penggundulan hutan, membuang sampah sembarangan, menggali batuan, pasir dan kapur secara sembarangan, pembakaran hutan, atau pemakaian teknologi modern yang tidak memperhatikan keamanan lingkungan.

Peringatan lain yang perlu dipahami sesungguhnya manusia itu lemah dan benar-benar tidak berdaya untuk mengatasi bencana yang terjadi dengan seketika, tidak mampu diprediksi serta tak dapat menolong dirinya sendiri apalagi orang lain. Perhatikan ayat ini, “Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Allah sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Menguasai atas segala sesuatu”. (QS. An’aam : 17).

Ayat lainnya mengatakan “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuura : 30).

 

 Ke empat, bencana alam adalah azab dan siksaan bagi manusia yang hidup bergelimang dosa, maksiat dan mengabaikan ajaran agama. Al Quran meriwayatkan kisah-kisah umat terdahulu, seperti umat Nabi Sholeh, Nabi Hud dan Nabi Nuh AS. Allah SWT menimpakan bencana banjir, gempa, hujan batu dan lain-lain kepada umat-umat nabi-nabi tersebut karena pembangkangan mereka kepada Nabi dan melanggar aturan Tuhan.

Umat Nabi Luth yang mengingkari Allah SWT telah menderita  bencana hujan batu, “Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu”. (QS. Al A’raaf : 84). Lebih jelas dalam surat Al Ankabuut Allah berfirman: “Maka masing-masing Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri“. (QS. Al Ankabuut : 40)

Dari kalam-kalam Allah SWT di atas harus diyakini bahwa bencana alam yang menimpa manusia merupakan azab bagi orang-orang yang membangkang kepada Allah SWT. Seharusnya bencana-bencana tersebut dapat dihindari jika mereka beriman dan melakukan amal ibadah dan amal saleh. Manusia harus mampu mengambil pelajaran dari ayat-ayat itu. Dari setiap kejadian bencana kita harus mampu mengubah prilaku dan pola hidup kita ke arah yang lebih baik.

 

Mengurangi Risiko Bencana Menurut Agama Islam

Dari paradigma di atas diketahui manusia tidak mampu melawan, menghentikan dan menghindari terjadinya bencana. Namun manusia dapat mengurangi risikonya. Menurut Islam, upaya mengurangi risiko bencana adalah suatu keharusan dan bahkan menjadi wajib hukumnya serta dapat dikategorikan ke dalam fardhu kifayah (jika tidak ada yang melakukan maka seluruh penduduk suatu wilayah ikut menanggung dosa).

Dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW bersabda: “Sekiranya kalian mendengar di suatu negeri terjadi wabah (penyakit menular) maka jangan seorangpun memasuki negeri itu, dan bagi orang-orang yang berada di dalamnya tidak boleh seorang pun keluar dari padanya“. (HR. Bukhari). Hal itu bertujuan, agar risiko atau korban yang ditimbulkan oleh bencana wabah itu bisa ditekan sedikit mungkin.

Dalam riwayat lain diceritakan bahwa pada sebuah peperangan yang dihadapi Rasulullah SAW, di sela-sela penantiannya menghadapi musuh, Rasulullah SAW memperingatkan pasukannya: “Wahai manusia jangan sekali-kali kalian bercita-cita untuk bertemu dengan musuh, tetapi mohonkanlah kepada Allah keselamatan…!” (HR. Bukhari).

Jadi dalam peperangan sekalipun jangan berharap bertemu musuh karena bila terjadi perang risikonya adalah terluka, hilangnya nyawa, dan harta benda.

Hadits-hadits di atas benar-benar mencerminkan ketegasan ajaran Islam yang menekankan perlunya upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Hukum Islam (qawa’id fiqhiyah) menegaskan bahwa segala sesuatu yang dapat menimbulkan bencana harus dicegah.

Al Qu’ran yang secara tegas mengatakan bahwa kerusakan di muka bumi antara lain terjadi akibat ulah dan perbuatan manusia (QS. Ar-Ruum: 41). Oleh karenanya, segala celah yang dapat memicu terjadinya bencana harus ditutup rapat dan dikurangi risikonya (sadd dzari’ah).

Ancaman bencana akibat kerusakan alam bukan mengada-ada karena (nyaris) tak ada fenomena alam yang terjadi tanpa sebab. Hubungan sebab akibat ini berlaku bagi alam, seperti kehidupan, kematian dan gejala-gejala alam lainnya.

Seluruh jagat raya ini membentuk semacam mata rantai kehidupan, yang saling menghubungkan, membutuhkan, mengikat dan saling mempengaruhi satu  sama lain. Itulah sebabnya, Islam sangat menganjurkan agar manusia senantiasa menjaga kelestarian alam. (QS. Al A’raf: 56).

Islam mewajibkan manusia untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya dalam menghadapi bencana. Memang secara alamiah setiap orang mempunyai naluri untuk menyelamatkan diri dari bencana. Namun, dengan memahami cara-cara menghadapi bencana alam secara cerdas dan sistematis maka risiko bencana akan dapat ditekan serendah mungkin. Untuk ini perlu meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek dalam PRB.

Untuk mewujudkan kondisi demikian, penting untuk melakukan penyuluhan dan pendidikan agar masyarakat mampu mencegah, melakukan mitigasi dan siapsiaga menghadapi bencana. Tindakan ini harus dimulai dari penyebaran informasi mengenai jenis bencana, potensi bencana, dampaknya, dan cara-cara penanggulangannya.

Segala sarana dan fasilitas alat komunikasi,  seperti HP,  internet,  radio,  telivisi,  media  cetak,  begitu  juga  media  dan  forum  lainnya, termasuk mimbar Jum’at, pengajian, majelis taklim, penyuluhan, hiburan rakyat dan lain-lain yang dapat menyampaikan informasi dan pengetahuan secara cepat dan tepat harus dimanfaatkan untuk pengurangan risiko bencana.

Al-Quran mengajarkan kita agar selalu responsif dan bersiap siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan. “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu,…!”. (QS. An-Nisa’ : 71). Sebagai negeri yang sangat rawan terhadap bencana alam, kepedulian terhadap pengurangan risiko bencana mestinya sudah menjadi prioritas program pemerintah.

Jangan biarkan, nyawa anak negeri ini melayang sia-sia hanya lantaran kita tidak siap dan tidak renponsif menghadapi risiko bencana. Al Quran dengan tegas melarang kita mati konyol dan sia-sia, “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Baqarah : 195).